aNak, AyAh, Dan Untanya
Pernah suatu ketika ada seorang anak bersama ayahnya dan seekor unta yang ditungganginya. Ayah dari anak tersebut mengajaknya menuju pasar tak jauh dari tempat tinggal mereka berdua. Awalnya ia hendak mengajaknya berkeliling mengitari pasar sekedar untuk turut serta dalam keramaian hiruk-pikuk pasar yang tak terkendali. Anaknya duduk diatas unta dan ayahnya berjalan sambil setia dengan genggaman jarinya bersama tali yang mengikat unta tersebut.
Selama perjalanan banyak yang bisa dilihat, dari mulai geliat perjuangan seorang wanita renta yang berburu barang bekas berkualitas obralan lidah yang indah.
Ada pula pengorbanan seorang ibu yang tak lelah menawar
serendah mungkin harga selembar kulit unta sampai penjualnya menangis
tak kuasa melayani “transaksi sistemik” si ibu tersebut. Di sebelah
kanan, tak henti-hentinya hilir-mudik kuli panggul yang setia
menggugurkan peluh sambil memanggul barang bawaan sang tuan dadakan.
“Duhai anakku, ku kenalkan padamu sebuah tempat. Pasar namanya. Dan
engkau sedang berada disini.” Lirih sang Ayah.
Mereka terus berjalan sambil mengamati semua pembeli dan penjual di
pasar tersebut.
Tak satupun mereka jumpai kecuali yang ada adalah pembeli yang ingin murah dan pedagang yang ingin laba melimpah.
Tak sedikit dari mereka rela berbohong, menaikkan modal lewat lidah mereka sendiri atau mempermainkan takaran timbangan.
Ada pula pembeli yang rela dengan susah payah menawar
serendah-rendahnya harga barang yang mereka hendak beli yang pada
akhirnya tak ada transaksi karena memang itulah kenikmatan sang pembeli;
menawar dengan susah payah, karena itulah makna perjuangan.
“Duhai anakku, inilah pasar sekarang kau mulai mengenalinya.” Lanjut
sang Ayah menutup babak kedua penjelasan. Langkah unta mengiringi
langkah sang Ayah mengikuti vektor tali genggaman tangan hitam keriput
seorang renta nan mulia. Diujung jalan sang Ayah tertarik dengan
kerumunan laki-laki. Mereka bukan penjual, bukan pula pembeli.
Tak sadar mereka ternyata sebentar lagi berada dalam pusaran
juragan pasar yang berkumpul menerima upeti harian sambil terbelalak
mendengar cerita lucu juragan yang lain sesama mereka.
“Hei, tak ada orang yang paling durhaka kecuali seorang anak yang
membiarkan ayahnya berjalan diatas terik matahari sedangkan ia dengan
enaknya duduk diatas tunggangan unta.” Loroh salah satu diantara mereka
menyindir sang Anak yang disambut dengan gelengan banyak kepala.
“Nak, mari tukar dirimu dengan Ayah. Ayah tidak ingin engkau
menjadi durhaka karena ini. Turunlah engkau, biar Ayah yang menunggangi
unta dan engkau berjalan.” Lanjut sang Ayah.
“Aduhai, tega benar lelaki itu.
Lelaki macam apa ia yang tega duduk diatas tunggangan sementara
anaknya berjalan kaki sendirian diatas tanah yang panas?” Suntak sindir
lelaki yang satu.
“Hei dungu, ayah macam apa kau?! Padahal untamu tak lebih jelek daripada
dirimu” Lanjutnya
“hahahaha…” Sambut lelaki yang lain.
“Nak, mari naik bersama ayah diatas. Mari kita tunggangi bersama unta
ini.” Langkah sang Ayah menanggapi sindiran.
“Aduhai, apakah otak mereka seperti unta. Tak punyakah sedikit rasa
kasihan pada unta itu?” Sindir lelaki yang lain.
“Nak, mari kita kita berdua turun. Barangkali ini cukup membuat mereka
diam tak lagi mengejek diri kita.” Ucap sang Ayah dengan bijaksana.
“Demi bapakku penguasa kota ini, apakah mereka tak tahu bahwa unta untuk
mereka tunggangi. Seberapa kaya memangnya mereka sampai-sampai tak
sedikitpun menggunakannya?” Murka seorang lelaki yang dari pakaiannya
nampak bahwa ialah pemimpin diantara mereka.
“Nak, mari ayah angkat dirimu untuk naik kembali diatas unta ini” Lanjut
sang Ayah.
“Ayah, mengapa kita seperti ini? Mengapa kita diperlakukan seperti ini?”
Tanya sang Anak.
“Inilah pasar nak, ada diantara mereka yang menjadikan kehinaan adalah
pakaian dan menghina menjadi perhiasan mereka.”
“Anakku, Ayah ingin berpesan. Banyak yang tidak suka melihat kebaikan
kita. Dan banyak pula yang tidak suka dengan keburukan kita. Hitam kita
dianggap murka. Dan putih kita dianggap sok suci. Apapun yang kita
kerjakan selalu salah dimata mereka.
Duhai anakku, teruslah berjuang dimanapun kau menapak, jadikan
ejekan mereka orang-orang yang berdiri atau duduk, orang-orang yang kau
lewati adalah ujian yang semakin menguatkanmu bukan membuatmu lemah
dalam menapaki kebenaran. Allah Yang Maha Mengetahui sengaja menurunkan
mereka duhai anakku untuk menguji kita, siapa diatara kita yang beriman
dan siapa diantara kita yang sabar” Tutup sang Ayah mengakhiri
perjalanan dengan sebuah hikmah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar